Anemia bisa menyerang sejak bayi dan seringnya terabaikan hingga berdampak serius pada tumbuh kembang bayi. Yuk, cari tahu ciri bayi anemia, penyebab, dan cara mengatasinya.
Ciri-ciri Bayi Anemia
Anemia pada bayi sering kali sulit dikenali karena gejalanya hampir tidak terlihat. Namun, memahami ciri-cirinya sangat penting untuk menjaga tumbuh kembang bayi:
1. Memiliki Kulit Pucat
Sel darah merah membawa oksigen ke seluruh tubuh melalui hemoglobin. Jika jumlahnya berkurang, distribusi oksigen terganggu, dan fungsi tubuh bayi dapat terpengaruh.
Anemia membuat tubuh bayi kekurangan sel darah merah sehingga penyebaran oksigen ikut terganggu. Itulah mengapa kulit bayi terlihat pucat.
2. Terlihat Lebih Lemas
Ciri bayi anemia selanjutnya adalah bayi tampak lemas. Hal ini terjadi karena kurangnya asupan sel darah merah yang membawa oksigen ke beberapa organ tubuh, termasuk paru-paru.
Akibatnya otot tubuh bayi akan lebih lemah, sehingga ia lebih mudah lelah, bahkan sesak napas.
3. Pola Tidur Terganggu
Anemia kerap terjadi karena kurangnya zat besi dalam tubuh. Padahal, zat besi sangat diperlukan untuk menghasilkan neurotransmitter yang erat kaitannya dengan pola atau jam tidur bayi.
Itulah mengapa bayi yang mengalami anemia kerap mengalami masalah tidur, yang dapat mengganggu tumbuh kembangnya. Sebab, bayi usia 4 - 12 bulan masih membutuhkan tidur yang cukup.
4. Bayi Menjadi Lebih Rewel
Salah satu ciri bayi anemia adalah ketika ia mulai lebih rewel dari biasanya. Hal ini terjadi karena kondisi ini membuat ia merasa pusing, lemas dan tidak nyaman.
Jika si Kecil mulai rewel, tidur lebih banyak dari biasanya, dan lemas, Ibu disarankan untuk segera memeriksakan bayi ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
5. Lidah Bengkak dan Perih
Anemia defisiensi zat besi dapat menyebabkan lidah perih karena berkurangnya pasokan oksigen ke jaringan tubuh.
Kekurangan oksigen ini dapat menyebabkan iritasi dan peradangan, yang mengakibatkan rasa sakit atau ketidaknyamanan pada lidah.
Anemia defisiensi zat besi juga dapat menyebabkan gusi pucat, karena rendahnya hemoglobin yang mengurangi pasokan oksigen ke gusi sehingga memengaruhi kesehatan mulutnya.
Baca Juga: 10 Manfaat Zat Besi untuk Bayi dan Cara Penuhi Kebutuhannya
Selain dari ciri-ciri di atas, Bunda juga bisa mengetahui risiko anemia pada bayi dengan mengecek kecukupan asupan zat besi (iron) dalam tubuhnya menggunakan Kalkulator Zat Besi.
Penyebab Anemia pada Bayi
Kenapa bayi bisa terkena anemia? Salah satu penyebabnya adalah karena kelahiran prematur. Selain itu, ada beberapa penyebab anemia pada bayi yang patut Bunda perhatikan, antara lain:
1. Kelahiran Prematur
Kelahiran prematur adalah salah satu penyebab anemia pada bayi. Pasalnya bayi prematur cenderung memiliki jumlah sel darah merah yang lebih sedikit dan lebih cepat terpecah.
Hasil penelitian menyebutkan, nilai hemoglobin pada bayi kelahiran prematur dapat turun hingga 8 g/dL pada usia 4-6 minggu, terutama bayi yang lahir dengan berat 1-1,5 kilogram.
2. Terlalu Banyak Kehilangan Darah
Bayi juga dapat mengalami anemia bila terlalu banyak kehilangan darah. Kondisi ini bisa terjadi saat ia mendapatkan perawatan selama di NICU.
Kehilangan darah ini terjadi karena untuk memantau kondisi bayi, tim medis perlu melakukan beberapa tes darah.
Jika selama proses ini bayi tidak mendapatkan darah pengganti, maka ia akan berisiko mengalami anemia.
3. Tidak Memproduksi Cukup Sel Darah Merah
Bayi baru lahir sering mengalami anemia karena pertumbuhan yang cepat. Kondisi ini disebut sebagai anemia fisiologis, dengan ciri kulit bayi yang tampak pucat.
Penyebabnya adalah karena tubuh bayi membutuhkan waktu untuk memproduksi sel darah merah yang cukup. Ketidakseimbangan ini terjadi saat pertumbuhan bayi melebihi produksi sel darah merahnya.
Anemia juga dapat terjadi ketika sumsum tulang tidak menghasilkan cukup sel darah merah baru. Kondisi ini disebut anemia aplastik, yang meningkatkan risiko infeksi dan masalah pendarahan pada bayi.
4. Pemecahan Sel Darah Merah yang Terlalu Cepat
Pemecahan sel darah merah yang terlalu cepat (hemolisis) juga dapat memunculkan ciri bayi anemia dan meningkatnya kadar bilirubin.
Bilirubin dikenal sebagai pigmen kuning yang diproduksi tubuh selama proses pemecahan sel darah merah dalam kondisi normal. Akibatnya kulit dan bagian putih di mata tampak menguning.
Selain itu, anemia juga dapat terjadi karena ketidakcocokan golongan darah dengan ibunya yang disebut Rh/ABO incompatibility. Anemia ini juga bisa terjadi karena kelainan genetik.
Baca Juga: 15 Ciri Bayi Kekurangan Zat Besi yang Harus Bunda Tahu
Cara Mengatasi Anemia pada Bayi
Cara mengatasi anemia pada bayi dapat dilakukan tergantung pada penyebabnya. Berikut adalah beberapa hal yang bisa Bunda lakukan ketika si Kecil mengalami anemia:
- Memberikan suplemen vitamin dan mineral yang direkomendasikan dokter.
- Menghentikan obat yang menyebabkan anemia.
- Memberi pengobatan pada gangguan yang menyebabkan anemia.
- Memberikan antibiotik jika penyebab anemia adalah infeksi.
- Memberikan transfusi darah bila dibutuhkan, terutama untuk mengganti kehilangan darah yang signifikan.
- Mengubah pola makan bayi, terutama jika sudah bisa mengonsumsi makanan padat.
- Melakukan pembedahan untuk mengangkat limpa jika bayi mengalami anemia hemolitik tertentu..
Jika bayi sudah memasuki usia MPASI, Bunda bisa mengubah pola konsumsi makanan kaya zat besi (iron), antara lain:
- Sayuran berdaun hijau tua, seperti brokoli dan sawi.
- Daging-dagingan, daging sapi, daging ikan, atau daging ayam.
- Kacang-kacangan, seperti kacang polong atau buncis.
- Roti gandum utuh.
- Sereal dan pasta.
- Umbi-umbian, seperti ubi jalar dan singkong.
- Buah-buahan vitamin C, seperti jeruk, beri-berian, pepaya, dan tomat.
Jadi, itulah beberapa penyebab anemia pada bayi dan ciri bayi anemia yang perlu Bunda ketahui untuk membantu Bunda melakukan tindakan yang tepat agar kondisi bayi tetap sehat.
Jika Bunda masih punya pertanyaan mengenai anemia pada bayi atau masalah kesehatan lainnya, Bunda bisa hubungi Sahabat Bunda Generasi Maju.
Layanan interaktif ini tersedia selama 24/7 secara gratis agar Bunda dapat menghubungi kapan saja dan di mana saja saat membutuhkan konsultasi dengan tenaga ahli. Yuk, hubungi sekarang!